03-September-2014

Menulis Essay Dengan Prinsip Verba Volant

Menulis Esai dengan Prinsip

“Verba Volant, Scripta Manent"

Oleh: Listya Sulastri Wulan Kurniati

            Menulis adalah sebuah pekerjaan yang “gampang-gampang susah”. Gampang bagi yang memiliki niat dan kesempatan, susah bagi yang tidak memiliki kesempatan, dan memang tidak berniat untuk melakukannya. Setiap kita pernah menjadi pelajar, dan seperti kita ketahui bersama, pelajar tentu tidak pernah berhenti dari kegiatan menulis, entah membuat makalah, artikel, ataupun tugas-tugas yang lain, yang memerlukan keterampilan menulis. Sebagai aktivis di dunia pendidikan, baik peserta didik, maupun  guru, selalu akan dihadapkan pada kegiatan menulis. Kegiatan menulis bagi peserta didik merupakan makanan sehari-hari yang harus dihadapi dan dinikmati, sedangkan bagi guru, kegiatan menulis ini, kalau tidak dibina hanya akan muncul ketika guru dihadapkan pada kewajiban mengumpulkan nilai-nilai dan poin-poin untuk  syarat kenaikan pangkatnya.

Dewasa  ini kegiatan menulis bagi peserta didik sudah banyak difasilitasi, baik oleh sekolah, melalui kegiatan ekstrakurikuler, maupun oleh berbagai lembaga dan departemen dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan Lomba Karya Tulis Ilmiah maupun Lomba Karya Ilmiah remaja. Seperti halnya yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu kegiatan Lomba Esai Sosial Budaya Nasional. Kegiatan yang  baru berjalan dua tahun ini, yaitu tahun 2013 dan 2014, mengkhususkan bentuk penulisan pada esai, karena dianggap bentuk esai ini lebih luwes untuk mengungkapkan dan mendiskusikan tema-tema kebudayaan. Lomba penulisan esai dimaksudkan untuk  menggali kemampuan para peserta didik menyikapi berbagai masaah sosial budaya yang tumbuh di tanah air kita.

            Pada tahun 2014 ini, yang bertepatan dengan pesta demokrasi di Indonesia, Puslitbang Kebudayaan menyelenggarakan lomba penulisan esai dengan tema “Kaum muda dan budaya demokrasi”. Tema tersebut diangkat  dengan pemahaman bahwa demokrasi merrupakan upaya memperjuangkan aspirasi warga negara. Pesta demokrasi melalui ajang pemilihan calon anggota legislatif dan presiden merupakan peristiwa politik sebagai sarana menyalurkan aspirasi warga negara, hal itu juga merupakan pesta budaya, di  mana insan demokrasi menyusun strategi, pola, dan asas yang lantas menjadi perilaku kolektif, sehingga membentuk apa yang  disebut sebagai budaya demokrasi (Ismadi, 2014).

Dalam  lomba ini, panitia menerima 1000 naskah esai, yang kemudian melalui seleksi yang ketat berupa penilaian administrasi dan substansi, dewan juri memutuskan 15 finalis untuk diundang ke Jakarta. Melihat animo yang sangat tinggi ini, pihak Puslitbang Kebudayaan lantas mengembangkan program kegiatan tidak hanya dalam bentuk lomba, melainkan juga pelatihan dengan tajuk “Peningkatan Mutu Penulisan Esai.”  Kegiatan diselenggarakan di Yogyakarta sebagai apresiasi terhadap kota Yogyakarta karena pada penyelenggaraan tahun 2013 yang lalu, Yogyakarta merupakan provinsi dengan jumlah peserta lomba terbanyak (Ismadi, 2014).  Kegiatan yang diselenggarakan selama tiga hari ini, yaitu pada tanggal 28, 29, 30 Agustus 2014 di hotel Grand Zuri ini, melibatkan 100 peserta didik dan guru pembimbing KIR dari Yogyakarta, Semarang, Jawa Timur dan Jawa Barat.

MAN Yogyakarta I sebagai satu-satunya madrasah yang diundang dalam acara tersebut membuat kami, para peserta merasa berbangga hati dapat hadir bersama rombongan dari SMA 1, SMA 6, SMA 8, dan juga beberapa SMA dari DIY, Solo, Semarang dan sekitarnya.  Kami dari MAN Yogyakarta I memilih Nurul Hikmah Ad-della sebagai salah satu siswa yang memenangkan tiket menuju Parlemen Remaja 2013 yang terpilih dengan karya esainya untuk mewakili DIY. Selain Hikmah Ad-della, kami juga menunjuk Ihwan Nur Kholis,s ebagai peserta dalam acaradi atas,  yang telah mewakili MAN Yogyakarta I dalam kegiatan Jejak Tradis Budaya Regional dengan mengirimkan makalah penelitian dan kebudayaan, dan sebagai wakil dari DIY, selain itu, Ihwan juga mengikuti  lomba penulisan OPSI sejarah, Seni, dan Budaya, dengan 1 guru pembimbing, yaitu penulis sendiri.

Kegiatan ini  menghadirkan tiga orang pemateri yaitu, Tarli Nugroho (seorang peneliti dari Mubyarto Institute) dengan materi Apa dan Bagaimana Menulis esai, Khidir Marsanto(dari Antropologi UGM)  dengan mengangkat tema Kajian Pustaka dan Etika Penulisan Ilmiah, serta Zen Rahmat Sugito(esais) dengan materi Menerbitkan Tulisan (Cetak dan Online).

Secara umum, Tarli Nugroho memperkenalkan bahwa menulis esai tidak sesulit yang dibayangkan. Anggap saja kita sedang berbincang dengan teman kita tentang sesuatu hal atau masalah yang sedang berkembang di sekitar kita, perbincangan ini memunculkan pendapat-pendapat kita tentang masalah tersebut. Pendapat-pendapat pribadi itu jika kita susun dalam bentuk tulisan, maka itulah yang dinamakan esai. Dengan menggunakan logika ‘perbincangan’, maka bentuk tulisan esai pun tidak lagi harus sekomplet dan seberat artikel atau makalah. Esai secara umum merupakan opini pribadi penulis tentang sesuatu hal atau masalah yang dilihat dari sudut pandang penulis itu sendiri. Tarli mengibaratkan,  esai adalah kegiatan berbincangan ringan di dalam tradisi lisan yang kita istilahkan dengan ‘mengobrol’, dan berbincang ringan dalam tradisi tulis yang kita kenal dengan menulis esai. Dengan pemahaman seperti ini, maka beban yang tampak di ujung mata atas penulisan esai ini menjadi lebih ringan bila dibandingkan jika penulis menganggap esai ini adalah sebuah artikel atau makalah. Hampir semua esai bahasanya ringan, materi esai pun tidak pernah berat atau serius, namun tetap juga  menonjolkan ekspresi kritis penulisnya. Dalam menulis esai, kunci keberhasilannya adalah pada judul dan paragraf pertamanya. Apabila keduanya kurang menarik, maka pembaca pun akan meninggalkannya.  Penulisan judul esai pun harus disesuaikan dengan karakter esai.

Khidir Marsanto secara umum mengangkat materi Etika Penulisan, yaitu dalam menulis kita memerlukan penelitian dan menghindari plagiarisme. Penelitian,  dalam hal ini bisa disederhanakan dengan kegiatan kita membaca berbagai sumber materi, melihat sesuatu, menyentuh, merasakan, dan berbagai pengalaman inderawi lainnya. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kita inilah, maka apa-apa yang bisa kita wujudkan dalam sebuah tulisan sebaiknya segera dituliskan.

Kekeliruan terbanyak sebuah penulisan esai, menurut Khidir Marsanto  terletak pada hal-hal berikut ini, salah satunya adalah tanpa referensi, maka hal inilah yang menyebabkan penulisan esai rawan plagiarisme. Kalaupun terdapat referensi, tetapi tulisan kurang tepat, atau  menggunakan kutipan dengan referensi dari internet, serta pengutipan dengan menggunakan sejumlah referensi.

Plagiarisme adalah kegiatan yang umumnya dilakukan baik secara sadar maupun tidak sadar dengan meng-copy paste  karya orang lain ke dalam tulisan kita. Apabila penulisan kutipan dari penulis lain ini tidak kita sertakan sumbernya, maka hal itulah plagiarisme.

Menulislah, lalu terbitkan!

Itulah pesan singkat yang memuat arti kompleks bagi para peserta pelatihan. Dengan meminjam pepatah Yunani,  verba volant scripta manent, yang artinya, “yang terucap terbang bersama angin, yang tertulis akan abadi”, para peserta diarahkan untuk lebih menghargai menulis. Inilah yang ditekankan oleh Zen Rahmat Sugito. Menurutnya, menulis adalah mengikat pikiran, maka setelah diikat, pikiran tidak akan terbang kemana-mana. Sebenarnya, menulis dan menerbitkan tulisan adalah prasyarat kaum intelektual , terpelajar, dan terdidik. Dengan menulis dan menerbitkan tulisan, maka, menurut Zen, kita, terutama para pendidik tidak hanya akan menjadi “sarjana pohon pisang”, yang hidup hanya untuk berbuah sekali.

Dalam kesempatan itu, Zen menegaskan satu hal penting, yaitu Bagaimana Menerbitkan Tulisan. Sudah pasti kita harus menulis lebih dahulu, menulislah sekarang, bukan esok, atau lusa, tak ada waktu untuk menunda. Sekali ditunda, tulisan akan selalu tertunda, sampai entah kapan, kita tidak akan menyadarinya. Bagaimana kalau tulisan kita gagal terbit, menurut Zen, setidaknya, Anda sudah menulis.

Zen mengatakan bahwa kegiatan menulis di media umum persaingannya lebih ketat, ruang menulis juga terbatas menjadikan tulisan menjadi tulisan pendek. Oleh karena itu, mulailah dengan surat kabar lokal di daerah kita, dimulai dengan level yang paling mudah, dengan mengikuti gaya dan view dari koran tersebut. Selanjutnya, pelajari rubrikasi di surat kabar tersebut yang diperuntukkan bagi penulis tamu atau orang luar. Menulislah dengan menulis di rubrik-rubrik khusus misalnya, rubrik untuk guru, untuk siswa, dan sebagainya. Menulislah dengan tema yang aktual dan Anda kuasai, juga sesuaikan dengan profil Anda.

Selain mengirimkan tulisan di media cetak, hal yang dapat dilakukan untuk melatih menulis, menurut Zen, adalah dengan mengirimkan tulisan ke media online. Dengan target portal berita, yang di antaranya terdapat di detik.com (rubrik Opini Anda, About, The Game, Suara Pembaca, dan BeritaSatu.com (Opini), Okezone.com (Opini, Politik Olah Raga, Sastra). Zen meminta apabila kita akan mengirimkan tulisan ke media online, maka kita pun harus memahami karakter pembaca online tersebut. Apalagi para pembaca yang menggunakan smartphone yang memiliki keterbatasan lebar layar baca, walaupun tulisan bisa fleksibel, namun menurut Zen, sebaiknya tulisan jangan terlalu panjang, setidaknya antara 1000 karakter saja, agar pembaca dengan smartphone  bisa nyaman dalam membaca. Zen mengutarakan, tulislah isu-isu yang aktual dan sedang ramai menjadi pembicaraan masyarakat, maka tulisan tadi akan berpeluang menjadi isu yang ramai.

Zen juga mengatakan, keuntungan menulis di media online antara lain, persaingan tidak terlalu ketat, lebih responsif terhadap isu aktual, antrian tulisan tidak terlalu lama, lebih mudah diakses, bisa dibaca kapan saja dan di mana saja, bisa diperbanyak dengan mengkopinya ke berbagai bentuk, bisa menjadi perbincangan apabila menggunakan media sosial, facebook, ataupun twiter, selain hal-hal tersebut, hal yang tidak kalah penting adalah bisa langsung berinteraksi dengan pembaca, masukan dan kritik langsung bsa kita terima.

Nah, apa lagi yang harus kita tunggu, kembangkan prinsip  verba volant, scripta manent, akan membuat tulisan kita segera terwujud dan dapat segera pula kita terbitkan menjadi sebuah karya esai yang luar biasa.

 

 


tags
  

Berita
Pramuka MAN 1 Yogyakarta Juara 1 Lomba Film Pendek
24-September-2020

Pramuka MAN 1 Yogyakarta Juara 1 Lomba Film Pendek

Kasubdit KSKK Kemenag RI Visitasi Kesiapan Layanan SKS MAN 1 Yogyakarta
18-September-2020

Kasubdit KSKK Kemenag RI Visitasi Kesiapan Layanan SKS MAN 1 Yogyakarta

Mengalami Peningkatan, 82 Persen Siswa Lulusan Tahun 2020 MAN 1 Yogya diterima di PTN
16-September-2020

Mengalami Peningkatan, 82 Persen Siswa Lulusan Tahun 2020 MAN 1 Yogya diterima di PTN

Siswa MANPK MAN 1 Yogya Ikuti Pelatihan Desain Grafis
13-September-2020

Siswa MANPK MAN 1 Yogya Ikuti Pelatihan Desain Grafis

Dilakukan Secara Online, Partisipasi Pemilihan Ketua OSIS MAN 1 Yogya Tetap Tinggi
13-September-2020

Dilakukan Secara Online, Partisipasi Pemilihan Ketua OSIS MAN 1 Yogya Tetap Tinggi